Breaking News
Home / Opini / Bahasa Daerah dan Bahasa Indonesia Di Tengah Arus Globalisasi

Bahasa Daerah dan Bahasa Indonesia Di Tengah Arus Globalisasi

Sebuah Opini Oleh Aryusmar

Bahasa daerah dan bahasa Indonesia merupakan kekayaan sebuah bangsa sebagai bukti adanya peradaban, seni dan budaya bahkan eksistensi bangsa itu sendiri yang diwariskan baik secara lisan maupun tulisan dari generasi ke generasi.

Badan Unesco PBB menetapkan tanggal 21 Februari sebagai hari bahasa daerah internasional. Menurut Direktur Unesco Sheldon Shaefffer bahwa 96 persen dari bahasa yang hampir punah (3000 bahasa) itu hanya digunakan oleh 4 persen populasi dunia. Lebih parahnya menurut data dari Ethnologue Languages of the World melaporkan bahwa untuk kawasan Asia Tenggara terdapat 527 bahasa terancam hampir punah.

Sedangkan di Indonesia menurut hasil penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bahwa dari 746 bahasa daerah yang ada di tanah air sebanyak 169 bahasa terancam punah dengan kondisi jumlah penutur di bawah 500 orang, sudah tua-tua serta tidak ada generasi muda pengganti dan berada di lokasi terpencil.

Hasil penelitian oleh Global Education Monitoring yang ditunjuk UNESCO menyatakan, 40 persen populasi dunia mengakses pendidikan dengan bahasa yang mereka tidak pahami. Dapat dibayangkan, hasil dari proses pembelajaran menggunakan bahasa pengantar yang tidak dipahami.

Itu sebabnya, banyak pihak menganjurkan agar proses pembelajaran tingkat permulaan di dunia pendidikan menggunakan bahasa sehari-hari yang dikuasai siswa, dalam hal ini bahasa daerah mereka. Penggunaan bahasa daerah ini, selain bisa meningkatkan prestasi belajar siswa juga ikhtiar melindungi bahasa itu dari ancaman kepunahan.

Lebih diperparah lagi pemerintah, dalam hal ini Kemendiknas, melihat tantangan global yang memang sudah tidak terelakkan, institusi pendidikan yang sudah memenuhi standar sekolah nasional diinternasionalisasikan menjadi sekolah berstandar internasional (SBI). Bahasa Inggris kemudian digunakan sebagai bahasa pengantar, meski secara tidak langsung melanggar UUD 1945 Pasal 36 tentang Bahasa Nasional.

Kondisi ini menyiratkan bahasa Indonesia sendiri juga sudah terjajah oleh bahasa Inggris. Masyarakat sudah mulai berpikir kemampuan berbahasa Inggris mempunyai gengsi tersendiri. Dalam banyak kesempatan, para pejabat juga sering memakai istilah dalam bahasa Inggris daripada tetap mengatakannya dalam bahasa Indonesia. Pemberian nama toko, slogan, dan acara resmi dari mulai sekolah, kampus, hingga pemerintah banyak yang menggunakan bahasa Inggris. Ini kemudian turut memperparah posisi bahasa Indonesia.

Saat ini perkembangan bahasa Indonesia memprihatinkan, pasalnya semakin banyak keluarga Indonesia yang menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari di rumah. Tidak hanya di rumah, penggunaan bahasa asing pun sudah mulai menjamur di sekolah-sekolah. Kehadiran sekolah Internasional di Indonesia terutama di Ibukota yang menggunakan kurikulum dari luar negeri menyebabkan sekolah tersebut menggunakan bahasa asing sebagai pengantar sehari-hari. Bahkan orang tua pun kini merasa bangga jika anak-anak mereka pandai berbahasa Inggris. Akibatnya kini marak kita temui terselipnya kata-kata bahasa Inggris di dalam percakapan bahasa Indonesia di berbagai kalangan, mulai anak-anak hingga tokoh nasional dalam wawancara resmi, dialog, atau debat. Tokoh tersebut seringkali kesulitan untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia sepenuhnya dan selalu menyelipkan kata-kata, istilah-istilah, dan ungkapan-ungkapan asing. Fenomena ini seakan menimbulkan stigma bahwa Bahasa Indonesia sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat Indonesia.

Menguasai bahasa asing di era globalisasi seperti saat ini merupakan suatu kebutuhan agar bisa bersaing di kancah global. Jadi, bukanlah suatu masalah jika masyarakat Indonesia belajar menguasai bahasa asing. Hanya saja, perlu diperhatikan sekeras apapun kita belajar bahasa asing, jangan sampai melupakan bahasa sendiri, bahasa tanah air, bahasa kebangganan, bahasa pemersatu, yakni bahasa Indonesia. Jangan sampai bahasa Indonesia mengalami kepunahan akibat semakin berkurangnya masyarakat yang menggunakan bahasa Indonesia.

Dilain kesempatan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memang sudah mengintruksikan integrasi khususnya bahasa daerah dalam mata pelajaran muatan lokal di sekolah-sekolah. Namun, jika mengandalkan pihak sekolah dalam menjaga kelestarian bahasa maka kecil sekali kemungkinannya membuat siswa fasih, lancar berbahasa daerah dan mengerti seni dan budaya sukunya sendiri.

Di samping itu komunitas seni dan budaya yang melestarikan bahasa, budaya, dan bahasa dalam pentas, sastra maupun bentuk lain juga belum cukup bila pengaruh dalam keluarga dan lingkungan sosial masyarakat tidak kuat dalam berbahasa daerah.

Meskipun usaha tersebut mulia, namun juga harus bekerjasama dengan orangtua siswa di mana memiliki pengaruh lebih besar dalam pembentukan bahasa daerah si anak dalam hidup sehari-hari.

Banyak contoh bahasa daerah yang musnah akibat tidak dilestarikan. Seperti di Papua bahasa Bonerif, Mafia, Saponi, di Sumatera bahasa Lom, di Sulawesi bahasa Dampal, Bahonsai, Baras dan Budong-Budong. Di Kalimantan Bahasa Punan Merah, Lengilu, Kareho Ureng di Maluku Bahasa Hukumina, Nakaela, Hoti Hulung dan lain-lain.

Jadi, membiasakan diri kita berbahasa daerah membawa nilai plus. Di samping fasih berbahasa daerah, juga fasih berbahasa Indonesia. Terlebih bila juga menguasai bahasa asing seperti Bahasa Inggris, Arab, Mandarin, Jepang, Prancis dan sebagainya.

Jadi tidak hanya tangkas dan akrab bersosialisasi bersama keluarga besar dan masyarakat sekitar dengan bahasa daerah, tetapi juga fasih berkomunikasi dalam forum resmi di masyarakat, sekolah dan dalam kebutuhan formal dengan bahasa Indonesia. Serta juga aktif dan berpartisipasi dengan Bahasa Inggris.

Untuk itu, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan harus membuat kebijakan yang mengatur setiap sekolah memberikan pengajaran tentang bahasa Indonesia dan bahasa daerah sebagai muatan lokal dari Taman Kanak-Kanak hingga ke tingkat Perguruan Tinggi, termasuk bagi sekolah-sekolah asing di Indonesia. Pembelajaran ini bukan hanya menekankan pada gramatika, namun pada keterampilan menggunakan dan juga pentingnya memahami bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Sekolah-sekolah yang menggunakan pengantar bahasa asing setiap hari juga harus mau menerapkan kewajiban bagi siswanya untuk berbahasa Indonesia dan bahasa daerah pada hari-hari tertentu, minimal sehari dalam seminggu. Selain itu, lembaga-lembaga pendidikan tersebut juga harus mengadakan kompetisi rutin penulisan makalah atau cerita tentang kebanggaan terhadap bangsa Indonesia dan bahasa daerah. Dengan begitu, kelestarian bangsa Indonesia dan bahasa daerah akan tetap terjaga di tengah-tengah arus globalisasi yang harus dihadapi.

Mari selamatkan bahasa nasional dan bahasa daerah kita. Mencintai bahasa Indonesia dan bahasa daerah berarti mencintai NKRI karena bahasa merupakan sebuah kekayaan dan jati diri bangsa.(*)

About master

Check Also

Etika Jurnalistik Dalam Profesionalisme Kewartawanan

Sebuah Opini Oleh Aryusmar PENDAHULUAN Etika jurnalistik dalam profesionalisme kewartawanan merupakan masalah penting dalam dunia …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *