KETUA TIM 17 : TIGA DUSUN DESA WAAI KEC.SALAHUTU KAB.MALUKU TENGAH MALUKU TETAP TOLAK PEMBANGUNAN NAP- LIN

Ketua Tim 17 : Tiga Dusun Desa Waai Kec.Salahutu Kab.Malteng Maluku Tetap Tolak  Pembangunan   NAP- LIN”
Ambon.korantekad.id.renacana Proyek pembangunan New Ambon Port – Lumbung ikan yang akan dibangun di desa Waai bertempat di tiga dusun yakni Batu Naga ,Ujung Batu dan batu dua jadi perbincangan publik informasi sangat simpan siur kepada masyarakat di tiga dusun bukan saja itu, sudah informasi yang simpang siur hingga sampai saat ini, pemerintah Provinsi Maluku melalui pemerintah negeri desa Waai tidak sama sekali transaparansi soal pembangunan New Ambon Port dan Lumbung Ikan Nasional ( LIN ) secara langsung turun ke masyarakat ketiga dusun tersebut.dan juga didapatkan masyarakat hanya penekenan- penekanan yang membuat keresahan masyarakat .padahal sudah berpuluh- puluh tahun mendiami ke tiga Dusun .Sehingga dengan ketidak transparansi dan sikap pemerintah yang mengabaikan masyarakat kecil khusus di tiga dusun ,mereka menyatakan menolak rencana pembangunan New Ambon Port dan Lumbung Ikan Nasional .dan sampai pada proses hukum jika itu tetap  dijalankan oleh pemerintah .karena hanya mempertahankan hak- hak ulaya yang  mereka miliki hingga saat ini .Hal di sampaikan ketua TIm 17 di tiga dusun ibu Yani yang ditemui tim  dikediamannya Selasa,12 Oktober 2021  Siang pukul 22.16
Dijelaskan Ibu Ani , selaku ketua tim yang di percayakan masyarakat tiga dusun ,dirinya merasa dibaikan di abaikan oleh pemerintah Provinsj  melalui pemerintah negeri Waai .
Pasalnya ,setiap ada Sosialisasi katong ( kami )  masyarakat  khusus   tidak dilibatkan dan  tidak ada pemberitahuan.” Bahwa sosialisasi yang dilakukan oleh kepala Pemerintah Negeri ( KPN)  beserta Pemerintah Provinsi domainnya cuma masyarakat negeri .Sedangkan ada wacana bahwa yang terdampak  di dusun sini (  unjung batu ) kita punya lahan, lalu karena tidak ada sosialisasi,dan  informasi yang katong ( kami )  terima.
Apalagi lanjut Yani ,terakhir dengan adanya staikmen awal dari kepala pemerintah negeri Waai pak Derek pada  tanggal 21 Agustus lalu di dusun  batu dua ,beliau mengatakan “mau tidak mau” suka tidak suka”  proyek ini jalan karena saya sudah tanda tangan dan karena  saya sudah kirim ke Presiden.maka dari penekanan pejabat tersebut sehingga   katong ( kami )  bentuk tim .
menurut Yani ,kami bentuk tim itu  masih belum rampung ,masih ada dari toko masyarakat ,toko adat yang katong ( kami )  duduk sama- sama berujung pada tanggal 10 september, itu karena tanggal 9 September pemberitahuan pengumuman terkait dengan pengumpulan data  Kapala Keluarga ( KK ), Kartu Tanda Penduduk (KTP)  beserta jumlah tanaman, luas lahan rumah ,dan itu harus segerah di bawa  (  kepada pemerintah negeri. tapi pengguman itu, tidak di indahkan oleh masyarakat khususnya ujung batu .Namun pada besoknya tanggal 10 jam delapan pagi ada pengumuman bahwa ada KPN minta hadir tatap muka dengan Masyarakat .jam 10, ada  tatap muka dengan masyarakat,kami turuti tapi dalam pertemuan  tidak ada pemberitahuan informasi terkait dengan sosialosasi apa itu New Ambon Port dan LIN manfaatnya apa dan bagaimana lahan atau rumah yang kami diamai .Malah pihak  KPN yang dalam hal ini Pejabat Pak Derek Bakarbessy cuman mengakatan bahwa ” saya di sini sebagai raja negeri Waai .Saya datang disini cuman mempertanyakan kenapa masyarakat seng datang bawa dong punya KK KTP dan bawa data- data sebenarnya ada apa ( balik tanya pjbt ke mereka ) .lalu di buka sesi tanya jawab.” Terang Yani
Menurut pemahaman kami, tambah Yani ,kalau sosialisasi tu dari awal harus ada pemaparan terkait dengan ini  dan bukan kami datang lalu  pertanyakan data karena kita merasa tidak di hargai sebagai masyarakat bodoh.dan saat itu juga ada masyarakat menolak ,disitulah  mulai keadaan tidak kondusif karena dari pejabat desa sendiri  mengatakan kepada masyarakat ” mau tidak.mau “suka dengan tidak tetap jalan ”  karena kalian ini hanyalah masyarakat dusun yang tinggal di dusun.” Ucapan  seakan- akan kita ditekan” kesal yani
Oleh karena penekanan raja yang demikian tim 17 sudah di perkuat masyarakat berikan dukungan dan kuasa kepada tim dengan tujuan baik menyuarakan aspirasi masyarakat menolak untuk direlokasi .karena didalamnya ada katong ( kami) punya hak- hak yang harus di lihat sebelum rencana program itu di proses.ini bukan berarti kami tidak mendukung program pemerintah .kami tetap dukung namun sekali lagi bukan di lahan tiga dusun.karena kami tidak mau diabaikan seperti pembebasan lahan di PLTU kemarin. Dan jika apabila kedua program terus dijalankan kami kembalikan ke hukum saja .”  Pintah Ani .
Dengan demikian Akui Yani ,” saya sudah di panggil tiga kali oleh pejabat negeri ketiga kali hari ini Selasa ,12 Oktober 2021 saya tidak mau hadir ,karena undangan yang di berikan salah alamat bukan ke Tim 17 ,tapi ke Aliansi. Dan penduduk yang paling terbayak ada pada dusun ujung batu sebanyak 304 KK lain dari itu ada di dua dusun .jadi seluruhnya 339 KK.”  Tegasnya. (Ati/ Tim ).

About master

Check Also

Seleksi Sekolah Bintara Polri 2027 di Polda Maluku, 18 Peserta Lulus Tes Psikologi

Ambon.korantekad.id  – Sebanyak 18 dari 30 peserta seleksi Sekolah Bintara Polri (SBP) Tahun Anggaran 2027 …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *